Yogyakarta (Kemenag DIY) – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahmad Bahiej, mengarahkan Tim Humas dan Komunikasi Publik untuk memperkuat pemberitaan yang menonjolkan dampak dan manfaat program Kementerian Agama bagi masyarakat, bukan sekadar melaporkan pelaksanaan kegiatan. Arahan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi Tim Humas dan Komunikasi Publik di Ruang HKP Kanwil Kemenag DIY, Senin (14/9/2026).
Ahmad Bahiej menegaskan, hal itu merupakan pesan dari Staf Khusus Menyeri Agama, Ismail Cawidu, kepada jajaran Kakanwil dan Kankemenag Kabupaten/Kota se-Indonesia. “Setiap pemberitaan perlu memiliki gagasan utama yang jelas dan menunjukkan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat,” tabdasnya. Kegiatan yang dilaksanakan jajaran Kementerian Agama harus dikemas dengan sudut pandang yang lebih dekat dengan kebutuhan dan pengalaman masyarakat.

“Pemberitaan jangan hanya menampilkan bahwa sebuah kegiatan telah dilaksanakan. Yang lebih penting adalah apa dampaknya bagi masyarakat. Setiap program harus dicari gagasan utamanya, kemudian dikemas dengan pesan yang mudah dipahami dan diingat masyarakat,” ujar Ahmad Bahiej.
Ia mencontohkan sejumlah bidang layanan Kementerian Agama yang dapat dikembangkan menjadi pemberitaan berbasis dampak. Pada layanan keagamaan, misalnya, pemberitaan dapat diarahkan pada manfaat pelayanan di KUA, peran penghulu, serta kemudahan layanan yang diterima masyarakat. Sementara pada bidang pendidikan, pemberitaan dapat mengangkat peningkatan kualitas guru, program Pendidikan Profesi Guru (PPG), maupun berbagai capaian pendidikan madrasah.
Menurut Ahmad Bahiej, pemberitaan mengenai kerukunan umat beragama juga perlu menunjukkan hasil dan perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Data kuantitatif, seperti peningkatan jumlah guru yang mengikuti PPG atau capaian program lainnya, dapat menjadi penguat informasi sekaligus dikemas dalam bentuk grafis yang sederhana dan menarik.
“Data dan capaian program sebenarnya bisa menjadi bahan komunikasi publik yang kuat. Tidak selalu harus dalam bentuk narasi panjang. Angka-angka capaian dapat disajikan melalui infografis sehingga lebih mudah dipahami masyarakat,” jelasnya.
Kakanwil juga mendorong Tim HKP untuk mengembangkan berbagai format konten digital, seperti video pendek, podcast, testimoni masyarakat, dialog publik, dan konten media sosial. Menurutnya, satu kegiatan dapat dikembangkan menjadi berbagai produk komunikasi sehingga pesan yang disampaikan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Ia juga mengingatkan agar kegiatan lapangan tidak hanya didokumentasikan dalam bentuk berita seremonial. Kehadiran media dalam kegiatan lapangan dapat dimanfaatkan untuk menggali pengalaman dan testimoni masyarakat sebagai penerima manfaat program Kementerian Agama.
“Kalau turun ke lapangan, jangan hanya membawa kamera untuk mendokumentasikan kegiatan. Kita juga perlu berdialog dengan masyarakat, mendengarkan pengalaman mereka, dan mengambil testimoni. Dari satu kegiatan bisa lahir banyak konten: berita, video pendek, testimoni, infografis, dan konten media sosial lainnya,” katanya.
Dalam arahan tersebut, Ahmad Bahiej juga menekankan pentingnya membangun content factory, yakni mengolah satu kegiatan menjadi berbagai produk komunikasi publik dengan sudut pandang yang berbeda. Strategi tersebut dinilai dapat membuat produksi konten lebih efektif sekaligus menjaga keberagaman informasi yang disampaikan kepada publik.
Selain mengangkat capaian program, Kakanwil meminta Tim HKP memperkuat human interest story atau kisah yang menyentuh sisi kemanusiaan. Cerita tentang perjuangan guru, siswa, penerima beasiswa, maupun masyarakat yang merasakan langsung manfaat program Kementerian Agama dinilai memiliki kekuatan untuk membangun empati publik.
“Cerita kemanusiaan bisa menjadi kekuatan komunikasi publik. Misalnya kisah seorang siswa yang memiliki keterbatasan tetapi tetap semangat belajar Al-Qur’an, atau perjuangan guru dalam mendampingi siswanya. Cerita seperti itu lebih mudah menyentuh masyarakat karena ada sisi perjuangan, keteladanan, dan empati,” ungkap Bahiej.
Ia mencontohkan kisah pembelajaran Al-Qur’an bagi penyandang tunanetra yang dapat dikembangkan menjadi video pendek dengan narasi yang kuat. Cerita tersebut tidak hanya menunjukkan kegiatan pendidikan, tetapi juga memperlihatkan proses, perjuangan, dan nilai kemanusiaan di balik program tersebut.
Di sisi lain, Ahmad Bahiej meminta Tim HKP tetap responsif terhadap isu yang berkembang di masyarakat. Respons cepat terhadap isu menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi Kementerian Agama.
“Selain membangun konten yang terencana, kita juga harus cepat merespons isu. Kehumasan harus hadir ketika masyarakat membutuhkan informasi dan penjelasan,” tegasnya.
Melalui penguatan strategi komunikasi tersebut, Kanwil Kemenag DIY diharapkan mampu menghadirkan pemberitaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga relevan, inspiratif, dan menunjukkan kontribusi nyata Kementerian Agama bagi masyarakat. (don/bap)
